
Belakangan ini, mendaki gunung seakan menjadi aktivitas favorit.
Terinspirasi dari Soe Hok Gie yang semasa hidupnya sering menghabiskan
waktu di gunung,
muncullah orang-orang yang ingin melakukan hal yang sama. Namun
bagaimana dengan pendaki pemula? Untuk bisa merasakan suasana gunung,
pendaki tidak harus langsung mendaki Semeru ataupun Rinjani. Pendaki
pemula bisa memulainya di salah satu gunung dengan trek cukup mudah yang
ada di Jawa Barat.
Gunung Papandayan merupakan satu yang terbaik di Kabupaten Garut.
Pesona Edelweis dan hutan mati yang begitu memikat mampu menarik para
wisatawan untuk mengunjungi gunung yang pernah meletus di tahun 1772
ini. Menurut beberapa pendaki, trek Papandayan terbilang cukup mudah dan
pendek, sehingga sangat bersahabat bagi pendaki pemula dan juga
keluarga yang mengajak anak-anak. Terdapat dua jalur pendakian untuk
sampai ke Papandayan yakni Cisurupan dan Pengalengan.
Jalur Cisurupan merupakan yang termudah dikarenakan treknya yang aman
dan bersahabat bahkan bagi pendaki pemula sekali pun. Untuk mencapai
basecamp, pengunjung harus sampai di gerbang pendakian terlebih dahulu
lalu melanjutkan perjalanan menuju basecamp, bisa dengan menyewa ojek
dengan tarif berkisar Rp 20.000-Rp 30.000. Sesampainya di basecamp,
pengunjung harus melakukan registrasi.
Setelah registrasi selesai, perjalanan pun dimulai.
Setelah registrasi selesai, perjalanan pun dimulai.
Di trek awal, pendaki akan disuguhi jalanan bebatuan dengan trek yang
cukup menanjak. Bagi yang belum terbiasa mungkin akan merasakan lututnya
kesakitan. Di areal ini bau belerang terasa menyengat. Ada 14 kawah
yang dimiliki Papandayan. Namun tidak semua kawah berasap putih, ada
juga kawah yang mengeluarkan asap berwarna kekuningan. Selanjutnya
pengunjung akan memasuki hutan. Disini suasana terasa jauh lebih sejuk
karena banyaknya pepohonan. Biasanya titik ini dijadikan sebagai tempat
berfoto ria dengan background kawah.
Sesampainya di pintu Lawang Angin, pendaki akan menemukan tiga jalur.
Jalur sebelah kiri menuju Camping Ground Pondok Saladah, jalur sebelah
kanan menuju Tegal Alun, sementara jalur lurus menuju Pengalengan. Di
Pondok Saladah, para pendaki bisa kemping terlebih dahulu sebelum menuju
puncak. Disini pendaki bisa mendapatkan air dengan mudah karena debit
airnya yang cukup besar. Mendirikan tenda, menyantap makanan hangat di
tengah udara dingin pegunungan dan minum cokelat panas menjadi suatu
kenikmatan yang bisa menghilangkan rasa penat. Sembari beristirahat,
pendaki bisa menikmati panorama indah Edelweis yang begitu banyak yang
berpadu dengan hutan. Cobalah mengarahkan pandangan anda menuju timur.
Disana anda akan menemukan hutan mati yakni deretan pohon kering yang
terkena erupsi. Suasana hutan mati berkabut dengan pepohonan yang
menghitam dan tanah kapur berwarna putih. Meskipun terkesan mistis,
pemandangan hutan mati tetap indah.
Setelah puas
berkemah di Pondok Saladah, perjalanan bisa dilanjutkan menuju Tegal
Alun. Untuk sampai ke Tegal Alun, pendaki harus menyusuri hutan mati.
Bisa dikatakan Tegal Alun merupakan rimbanya Edelweis dan merupakan
padang Edelweis paling luas di Indonesia. Keindahan padang ini selalu
dijadikan latar berfoto. Tapi ingat, Edelweis merupakan tanaman yang
dilindungi. Oleh karena itu, pendaki dilarang memetik bunganya. Pendaki
juga dilarang berkemah di padang ini karena bisa merusak ekosistem
Edelweis. Padang Edelweis ini merupakan primadona Papandayan. Di atas
puncak ini, pendaki bisa menyaksikan pesona keindahan matahari terbit
dan terbenam.
0 komentar:
Posting Komentar